Sebagai kota metropiltan yang sudah berumur 700 tahun lebih, kepadatan jalan memang hal yang lumrah ditemui setiap hari. Volume kendaraan bermotor jika dihitung, sudah tak mampu diakomodasi oleh jumlah ruas jalan di Surabaya. Tak jarang kemacetan & kecelakaan lalu lintas menjadi sahabat sejati kota ini. Saling serobot dan sifat tak sabaran di jalan menjadi salah satu pemicunya.
Salah satu contohnya adalah lampu merah jalan Bratang. Setiap hari saya berangkat kuliah melalui jalan tersebut, dan setiap hari pula lebih dari 75% pengendara sepeda motor menyerobot lampu merah. Ketika lampu merah ke arah Terminal Bratang dari jalan Nginden dan dari arah Semolowaru menyala, seketika itu pula sepeda motor dari arah jalan Nginden menerobos dan berhenti di dekat lampu merah ke arah Nginden (dari arah Terminal Bratang). Jika Anda mencermati, akan ada jeda sekitar 3 detik (dari lampu kuning ke merah) yang digunakan para penyerobot untuk menyeberang jalan padahal tak jauh dari situ (di terminal Bratang) ada pos Polisi. Tapi apa yang terjadi? Tidak kejadian tilang-menilang, seperti hal yang sangat biasa atau terlalu banyak pelanggar sehingga tak ditindak?
Hal ini sangat sangat sering dan lumrah ditemui di jalanan, dan ini hanya salah satu contohnya. Berjalan melawan arah, berkendara tanpa helm, dan pelanggaran lain seolah menjadi kebiasaan warga kota. Lalu, untuk apa peraturan dibuat? dilanggar? Untuk siapa kita berdisiplin?
Pertanyaan itulah yang menggelitik saya, ketika melihat fenomena itu. Bagi saya, berdisiplin di jalan akan memberikan contoh yang baik kepada generasi-generasi yang lebih muda. Bukankah kita harus memberikan teladan yang baik untuk ditiru yang lain? Oke, mereka sedang terburu-buru tapi apakah dengan alasan itu mereka dapat melanggar aturan? Atau, mereka tidak melihat adanya polisi tapi apakah mereka tahu bahwa tindakannya akan dicontoh oleh anak-anaknya? cucunya? temannya?
Bukannya sok baik atau munafik, berdisiplin di jalan bukan hanya demi kebaikan kita, demi orang-orang yang lain juga. Memberi contoh teladan yang baik akan membuat hidup kita lebih baik, bukan menjalani sesuka hati namun memberikan kontribusi yang baik untuk orang lain. Semoga kota ini dapat menemukan jati dirinya yang baik.
Lalu, Anda sendiri?
August 27, 2008 at 5:36 am
Pertamaxxxx lagi neh
Weew…
Aku SIM aja ndak punya,:D
Naek motor juga masi dalam proses pembelajaran…
Hehehe,
Biarpun Surabaya dah agak semrawut, tetapi tetap memikat..
Huaaa…:((
pengen di Surabaya aja..
August 27, 2008 at 6:30 am
for Yeni
duh, yeni lg..
emg surabaya memikat, apalagi kalo lagi ‘panas’. duh, ‘kata-kata’ emasnya keluar.
August 29, 2008 at 10:37 am
duh, aku lagi…
hehehehe..
‘panas’—>> kata2 yang terlintas pertamakali di kepala orang ketika menyebut Surabaya
iya gitu???
embuh….
hehehehe…
Untung orang2 nya ga ikutan panas kayak kotanya
September 3, 2008 at 8:32 am
ya ini Indonesia nu,hehe…
kesadaran masyarakatnya termasuk saya, kuranggg…:)
September 14, 2008 at 7:20 am
sate..sate….
ada yang mau beli ????