Jakarta, Venezia di Asia Tenggara?

February 4, 2008

Bagi Anda yang sering duduk maupun tidur di depan layar kaca, akhir-akhir ini sering disuguhi pemandangan Italia yang bisa dikatakan Indonesia Banget. Bukan sulap bukan sihir, ‘tiruan’ kota air, Venezia, ada di Indonesia! Tepatnya di Jakarta. Namun, ternyata bukan kota air yang terlihat di TV melainkan ‘teman akrab’ Jakarta yang sedang bertamu di kota itu, banjir.

Ya ya ya, lagi-lagi banjir datang ke kota yang paling vital di Indonesia. Mungkin sedang musimnya datang, musim hujan, atau karena membaca iklan ‘Visit Indonesia 2008′ (karena tak tahu siapa apa saja yang diundang).

Global Warming

Mungkin bisa jadi hal inilah yang menyebabkan Jakarta selalu banjir. Efek rumah kaca, pemanasan global (Global Warming), hujan asam, dan lain-lain, itulah yang sering kita dengar dari mulut para aktivis lingkungan. Namun, apa benar?

Global warming adalah suatu aktivitas manusia yang menggunakan segala zat-zat anti-atmosfer sehingga atmosfer bumi kita menjadi lubang. Bisa jadi karena karbondioksida, ataupun karbonmonoksida dalam kadar berlebih yang menghalangi pantulan sinar matahari keluar bumi, atau mungkin Freon yang melubangi ozon. Akibatnya, panas di dalam bumi menjadi meningkat, gunung-gunung es di sekitar kutub menjadi sangat kurang karena mencair, dan lain-lain.

Sepintas bila kita lihat dari akibat-akibat di atas, mungkin negara-negara di dekat kutub utara-lah yang paling merasakan akibatnya. Seharusnya, yang lebih sering mengalami banjir adalah mereka (karena naiknya permukaan air laut). Tapi, kenyataannya negara di garis khatulistiwa inilah yang lebih sering kebanjiran.

Secara logika, matahari tepat berjalan di bumi nusantara kita, maka panas yang diterima dari matahari juga lebih banyak. Waktu yang dibutuhkan untuk membuat surut air bah pasti lebih singkat. Namun, kenyataannya? Berhari-hari jalan berendam air, rumah dimasuki air.

Bila sudah seperti ini, apakah alam yang akan disalahkan? Tampaknya pribadi manusia-lah yang harus didandani lebih. Saya heran, berapa persenkah penduduk asli Jakarta? Saya yakin lebih banyak pendatang daripada penduduk asli. Mengapa mereka tidak ‘mengungsi’ kembali ke kampung halaman, tak lagi kembali ke Jakarta? Kok, suka bersusah-susah di kota besar. Siapa suruh datang Jakarta, itulah ungkapan saya meniru judul film. Dengan begitu mengatur drainase, pemukiman akan jauh lebih mudah karena pendatang notabene sedikit lebih sulit diatur.

Sedia payung perahu karet, sebelum hujan banjir

Bukannya saya menghina peribahasa yang sudah ada, tapi hanya ‘membenarkan’ untuk topik ini. Mengapa perahu karet, bukan payung? Tak lain karena tiap hujan hampir dapat dipastikan akan terjadi banjir. Payung tak lagi cukup membuat Anda kering dari air tetesan hujan bila tanah yang Anda pijak telah tergenang air.

Banjir adalah PR yang sedianya sudah terselesaikan dengan baik dari tahun-tahun sebelumnya. Indonesia punya banyak ahli lingkungan, arsitek handal, tapi mengapa belum terselesaikan pekerjaan ini?

Tahun ini adalah kampanye Indonesia untuk mengundang warga dunia datang ke negara ini. Bertepatan dengan 100 tahun kebangkitan nasional. Tapi, saya berpendapat kampanye ini kurang berhasil jika kita kurang membenahi problem tersebut. Ingat, bila ada suatu negara yang menjadi image pertama kali adalah keadaan ibukotanya. Apakah kita memang ‘menjual’ objek wisata air? Seperti Venezia.

Tulisan ini saya buat bukan untuk mengadili siapa pun yang merasa bertanggung jawab pada kejadian ini, namun saya ingin membangkitkan keinginan untuk menjadi bangsa yang lebih baik dari tahun ke tahun. Kalau bukan dari kita, apakah kita akan menunggu yang lain? Hingga kapan?