Menghadapi Orang yang Negatif

September 14, 2008
http://www.intelligentpants.com/

Sebagai makhluk sosial, manusia seringkali berinteraksi dengan sesamanya. Seringkali tujuan kita tercapai dengan adanya interaksi, namun tak dapat dipungkiri juga terkadang kita memperoleh ‘hal lain’ sebagai efek sampingnya. Ketika berbicara, bertingkah laku, ataupun bergerak orang lain akan menilai baik secara subjektif maupun objektif. Hal itulah yang seringkali orang memberikan asumsi negatif kepada kita, bahkan berniat menyakiti diri kita. Lalu, bagaimana kita mengatasi hal tersebut? Bagaimana kita menghadapi orang seperti itu?

Tak peduli kemanapun kita pergi, kita pasti akan menghadapi orang yang memiliki asumsi negatif, orang yang berlawanan (secara ide), orang yang meremehkan kita, atau bahkan tidak suka dengan kita. Terdapat kurang lebih 6,4 miliar orang di luar sana dan konflik merupakan hal yang fakta dalam hidup. Fakta ini bukan merupakan penyebab konflik, namun pemicu bagi emosi kita dan emosi-lah yang mendorong kita untuk kembali pada insting dasar bertahan kita, yakni bereaksi dan menyerang balik sebagai bentuk pertahanan diri.

Dalam momen-momen seperti inilah, kita bisa saja kehilangan kontrol diri dan berubah menjadi seperti binatang dengan hasrat untuk melindungi diri ketika diserang. Hal ini lumrah. Bagaimanapun, kita merupakan makhluk yang dianugerahi kecerdasan dan akal untuk mengontrol respon. Jadi, bagaimana kita melakukannya?

Pentingnya kontrol diri

Menyakiti diri sendiri – Sebenarnya, kita-lah orang yang tersakiti. Ketika bereaksi dengan hal yang negatif, kita telah mengganggu ruang dalam diri kita dan terluka secara mental.

Kesalahan pada mereka, bukan pada kita – Terkadang orang berbuat buruk kepada kita merupakan bentuk ekspresi kekecewaan dalam hidupnya. Orang yang stres dengan pekerjaannya, orang yang habis diputus pacar, ataupun orang yang gagal seringkali lebih sensitif dalam merasakan sesuatu. Mereka seringkali memandang sesuatu hanya dari satu sudut pandang saja, menilai kita terlalu subjektif sehingga memiliki asumsi yang kurang baik.

Membuang energi – kemana perhatian terfokus, di situlah energi tertuju. Pada saat kita ‘melayani’ sesuatu yang jelek tersebut, maka energi kita akan tercurah pada hal tersebut. Sehingga, tentu saja energi kita terbuang cuma-cuma hanya untuk hal kejelekan itu.

Kebebasan mereka – Manusia dianugerahi akal & pikiran, maka tentu saja berasumsi mengenai kita adalah hal yang wajar. Biarkan saja mereka menilai hal-hal yang ada pada diri kita. Hal-hal yang kita anggap baik, maka belum tentu baik juga menurut mereka. Mereka berhak beropini kepada kita, dan kita juga berhak memilih respon. Kita dapat memilih damai atau konflik. Jadi, terserah Anda dalam memilih respon.

Lalu, bagaimana seharusnya kita? Read the rest of this entry »