Disiplin di jalan, untuk siapa?

August 26, 2008

Sebagai kota metropiltan yang sudah berumur 700 tahun lebih, kepadatan jalan memang hal yang lumrah ditemui setiap hari. Volume kendaraan bermotor jika dihitung, sudah tak mampu diakomodasi oleh jumlah ruas jalan di Surabaya. Tak jarang kemacetan & kecelakaan lalu lintas menjadi sahabat sejati kota ini. Saling serobot dan sifat tak sabaran di jalan menjadi salah satu pemicunya.

Salah satu contohnya adalah lampu merah jalan Bratang. Setiap hari saya berangkat kuliah melalui jalan tersebut, dan setiap hari pula lebih dari 75% pengendara sepeda motor menyerobot lampu merah. Ketika lampu merah ke arah Terminal Bratang dari jalan Nginden dan dari arah Semolowaru menyala, seketika itu pula sepeda motor dari arah jalan Nginden menerobos dan berhenti di dekat lampu merah ke arah Nginden (dari arah Terminal Bratang). Jika Anda mencermati, akan ada jeda sekitar 3 detik (dari lampu kuning ke merah) yang digunakan para penyerobot untuk menyeberang jalan padahal tak jauh dari situ (di terminal Bratang) ada pos Polisi. Tapi apa yang terjadi? Tidak kejadian tilang-menilang, seperti hal yang sangat biasa atau terlalu banyak pelanggar sehingga tak ditindak?

Hal ini sangat sangat sering dan lumrah ditemui di jalanan, dan ini hanya salah satu contohnya. Berjalan melawan arah, berkendara tanpa helm, dan pelanggaran lain seolah menjadi kebiasaan warga kota. Lalu, untuk apa peraturan dibuat? dilanggar? Untuk siapa kita berdisiplin? Read the rest of this entry »